Friday, August 29, 2008

Lagi Kemiskinan

Drs. M. Yahya Pojiale
Dosen Antropologi, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan

Usia kemiskinan, setua dengan usia kemanusiaan itu sendiri. Dalam pada itu, maka kemiskinan sesungguhnya merupakan takdir manusia. Namun karena kemiskinan membawa implikasi permasalahan yang amat luas bagi manusia, maka kehadirannya wajib dimusuhi.
Setuju dan tidak sependapat dengan suatu faham ialah takkdir manusia, Takdir karena manusia lahir sebagai sebuah entitas yang unik, memiliki kapasitas intelegensi dan endapan pengalaman yang beragam, karena itu perbedaan pandangan merupakan suatu yang niscaya. Serupa halnya dengan kemiskinan, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah kehidupan umat manusia. Jika demikian halnya, maka kemiskinan merupakan takdir manusia. Keberadaannya akan senantiasa hadir mengiringi keberadaan umat manusia,Entitas kemiskinan akan setia mengiringi keberadaan manusia. Sebab, kalau fenomena kemiskinan telah berhasil dienyahkan oleh umat manusia, maka sejumlah teks-teks agama akan diperbaharui. Bagi pemeluk teguh ajaran Islam, tentu hal itu merupakan sesuatu yang mustahil. sebab teks suci Al Qur’an diyakni sebagai teks yang lengkap untuk segala jaman.
Olehnya itu, maka kemiskinan merupakan suatu takdir bagi manusia. Kehadirannya amat dibenci, tetapi akan terus hadir mengiringi keberadaan umat manusia. Jadi tak mungkin lagi turun ayat-ayat baru
Saya kurang memberikan curahan perhatian yang memadai berkenaan dengan teks Qu’an dan Hadis, karena itu saya tergolong awam dalam hal teks-teks tersebut. Tetapi saya sedikit memberi curahan perhatian terhadap manusia dari aspek biososiobudaya, dan psikososial, termasuk sosioekonomi.Dari curahan perhatian itulah, saya kemudian menemukan bahwa kemiskinan merupakan sesuatu yang inheren dalam sejarah manusia, kedudukannya sama dengan penyakit, ditakuti, dibenci, tetapi akan terus menyertai keberadaan manusia hingga akhir jaman. Manusia memang berkewajiban untuk memusuhinya, tetapi jangan pernah bermimpi bahwa kemiskinan akan dapat dienyahkan dimuka bumi. Fenomena itulah yang diresponi oleh berbagai teks-teks suci. Dan bahkan salah satu indikator kualitas keimnanan seseorang ialah ketika ia memberi curahan perhatian dan tindakan nyata untuk memusuhinya.
Dari perspektif itu, maka saya memandang kemiskinan sebagai sebuah takdir.Jadi saya tidak melihat masalah kemiskinan dari perspektif individu yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Pada level individu, seyogyanya kemiskinan tidak diterima sebagai suatu yang given, sebab hal itu bertentangan dengan pesan dan printah Tuhan yang tertuang dalam berbagai kitab suci.
Salamaki