Hakim Yassi & Hamka Naping Guru Besar
(kutipan dari akhbar IDENTITAS UNHAS 14 Agustus 2007)
Unhas kembali mengukuhkan dua guru besar, Selasa (14/8), setelah Abdul Hakim Yassi dan Hamka Naping menyampaikan orasi ilmiahnya di depan Sidang Senat Luar Biasa Unhas yang dipimpin Rektor/Ketua Senat Prof Dr dr Idrus A Paturusi.Abdul Hakim Yassi yang dari Fakultas Sastra menyampaikan orasi bertajuk ‘’Beralih ke Model Pembelajaran ‘’Learning Centered Approach’’ Saran dan Kata Kunci terhadap Aspek Kompaktibilitasnya’’. Sementara Hamka Naping yang dari Fakultas Ilmu Sosial Politik menyampaikan orasi berjudul ‘’Multikulturalisme: Staregi Integrasi Sosial dalam Masyarakat Multietnik’’.MetodologiMahaguru Fakultas Sastra ini merupakan guru besar ke-164 yang dimiliki Unhas saat ini. Pria kelahiran Tanrutedong, Sidrap 28 November 1956 tersebut dalam orasinya mengatakan, tidak satu sistem pendidikan yang harus dipaksakan kepada pihak lain. Namun demikian, dengan mempertanyakan apa yang dilakukan seseorang bila menghadapi sebuah metode yang pelaksanaannya berbeda dari kebiasaan yang dilakukan selama ini merupakan hal yang tak ternilai harganya. Dengan mempertimbangkan kebutuhan mahasiswa, keputusan tentang metodologi yang cocok harus dilakukan oleh para pendidik setempat yang didukung secara positif oleh pengambil keputusan atau pembuat kebijakan.‘’Pengalaman saya mengajar Bahasa Inggris selama kurang lebih dua dekade di Unhas meyakinkan saya bahwa faktor lain yang mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap suksesnya suatu proses pengajaran adalah sikap serta sifat dari seorang pendidik,’’ ujar alumni Fakultas Sastra Unhas 1987 ini.Hakim meraih gelar magister dengan predikat ‘’excellent’’ di Departement of Linguistics the University of Sidney, New South Wales, Australia pada tahun 1997. Gelar doktor diraihnya di Unhas pada tahun 2003.MultikulturalismeSebagai sebuah ideology, multikulturalisme terserap dalam berbagai interaksi yang ada dalam struktur kegiatan kehidupan manusia yang tercakup dalam kehidupan sosial, kehidupan ekonomi dan bisnis, kehidupan politik, dan berbagai kegiatan lainnya dalam masyarakat. Multikulturalisme, kata Hamka Naping, merupakan suatu strategi integrasi sosial yang menempatkan keanekaragaman budaya benar-benar diakui dan dihormati, sehingga dapat difungsikan secara efektif dalam menengarai setiap separatisme dan disintegrasi sosial.‘’Pengalaman mengajarkan, bukan semangat kemanunggalan atau ketunggalan (tunggal ika) yang paling potensial melahirkan persatuan kuat, melainkan pengakuan adanya pluralitas (bhinneka) budaya bangsa yang lebih menjamin persatuan bangsa menuju pembaruan sosial yang demokratis,’’ kata pria bertubuh subur yang dilahirkan di Barru, 4 November 1961 tersebut.Alumni Unhas 1986 ini menyebutkan, kemajemukan atau multikulturalisme perlu tersosialisasi secara baik dan merata pada seluruh elemen bangsa sebagai sebuah strategi dalam pembinaan persatuan dan kesatuan, perlu dipikirkan secara sungguh-sungguh wahana sosialisasi yang benar dan dapat diterima semua kalangan. Penerapan pendekatan pendidikan multikulturalisme menurut Hamka Naping menjadi sesuatu kebutuhan.Hamka Naping yang menyelesaikan pendidikan doktornya di Unhas tahun 2004, saat ini berpangkat/golongan Guru Besar/Pembina Utama Madya Golongan IV/d. Karya ilmiah ayah dua anak (istri Dra.Hj Nurjamiah Sallatu) ini seabrek. (d@).