Clifford Geertz: Sebuah Obituari
oleh :
Fadjar I. Thufail
Hari Selasa pagi (31/10) waktu Amerika Bagian Timur, di Princeton telah berpulang salah seorang tokoh besar ilmu sosial, Clifford Geertz. Kepergian Pak Cliff, demikian dia sering dipanggil, menambah deretan ilmuwan ahli Indonesia yang telah pergi meninggalkan warisan pemikiran besar bagi generasi muda penerus. Sampai akhir hayatnya, Pak Cliff adalah profesor emeritus di Institute for Advanced Study di Princeton, sebuah lembaga penelitian yang pernah menjadi rumah bagi para pemikir besar seperti Albert Einstein. Pak Cliff adalah salah seorang generasi pertama Indonesianis yang selalu menaruh perhatian besar tentang perkembangan yang terjadi di Indonesia. Ia memang tak pernah memiliki murid dari Indonesia, tak seperti Indonesianis lain misalnya Daniel Lev atau Benedict Anderson yang telah menghasilkan banyak anak didik dari Indonesia. Tetapi, perhatian Pak Cliff yang besar terhadap Indonesia sangat mempengaruhi perkembangan diskursus ilmu sosial di negeri ini.
Sebelum bergabung dengan Institute for Advanced Study, Pak Cliff mengajar di Universitas Chicago, sebagai profesor antropologi dan kajian perbandingan negara-negara baru. Ia pernah mengajar sebagai profesor tamu di Universitas Oxford, dan sejak 1975 sampai 2000, ia menjadi profesor tamu di Universitas Princeton yang kampusnya hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Institute for Advanced Study. Tahun 2000, Pak Cliff pensiun dari Institute for Advanced Study, tetapi tidak mengurangi produktifitasnya untuk terus menulis.
Sumbangan Pak Cliff terhadap dunia pemikiran ilmu sosial sangatlah besar, tak dapat dirangkum dalam sebuah tulisan pendek. Ia mulai menekuni kajian Indonesia sejak menjadi mahasiswa antropologi di Universitas Harvard, dan penelitian lapangannya di Pare, Jawa Timur, pada tahun 1950an menjadi buku yang kontroversial tapi banyak dikutip orang sebagai salah satu karya pertama tentang Islam di Indonesia, The Religion of Java. Sejak itu, Pak Cliff, bersama istrinya saat itu, Hildred Geertz, banyak melalukan kajian perbandingan antara Islam di Indonesia dan Maroko.
Pemikiran teoritis Pak Cliff merambah ke berbagai dimensi, dan sejalan dengan berkembangnya teori sosial, pemikiran Pak Cliff juga selalu mencoba menemukan wilayah-wilayah teoritis baru. Salah satu terobosan Clifford Geertz dalam teori sosial adalah anjurannya untuk mengembangkan pendekatan interpretasi dalam kajian sosial, politik, dan kebudayaan. Meskipun pertama kali berkembang sebagai pendekatan alternatif dalam disiplin antropologi saat itu yang mengandalkan perspektif relativisme kebudayaan atau strukturalisme, kajian interpretatif saat ini mulai dipakai dalam berbagi disiplin ilmu lain. Terobosan pendekatan interpretif Pak Cliff dapat disarikan dalam dua hal. Pertama, interpretasi haruslah berdasarkan “deskripsi tebal” (thick description) gejala atau peristiwa sosial. Kedua, tujuan akhir interpretasi adalah menemukan dan memahami pandangan, keyakinan, dan penjelasan aktor sosial dari perspektif aktor itu sendiri. Tujuan ini hanya bisa dicapai apabila peneliti dapat menjalin hubungan yang erat dengan masyarakat yang ditelitinya. The Interpretation of Culture adalah karya magnum opus Clifford Greetz yang memperlihatkan pemanfaatan pendekatan interpretif dalam memahami gejala sosial yang beragam, dari politik hingga seni.
Salah satu karya Pak Cliff yang sering dianggap sebagai penerapan yang sangat indah metode “deskripsi tebal” adalah etnografi dia tentang sabung ayam di Bali. Dalam etnografi yang sangat rinci ini, Clifford Geertz membuktikan bahwa dengan pengamatan yang sangat jeli terhadap sebuah peristiwa sabung ayam, seorang peneliti dapat mempelajari tentang berbagai hal mulai dari nilai simbolis, aspek jender masyarakat Bali, kekerasan, dan bahkan politik negara. Sampai saat ini, etnografi ini masih sering dipakai di kelas-kelas sebagai contoh metode “deskripsi tebal” yang terbaik.
Terlepas dari sumbangan luar biasa Pak Cliff terhadap teori sosial dan kajian Indonesia, ada sebuah anekdot kecil yang memperlihatkan ambiguitas hubungan sosial Pak Cliff dengan masyarakat yang pernah ditelitinya. Salah satu tokoh utama dalam buku The Religion of Java adalah seorang dokter di Pare yang menjadi responden Pak Cliff. Anak sang dokter kemudian mendapat kesempatan belajar ke Amerika. Sang anak, yang bernama Mahar Mardjono (kelak menjadi Rektor UI), mendapat titipan sebuah wayang kulit dari Clifford Geertz untuk disampaikan pada temannya. Bahkan, menurut cerita almarhum Mahar Mardjono kepada saya, Pak Cliff sempat datang sendiri mengantarkan wayang itu ke rumahnya. Sekitar tiga puluh tahun setelah peristiwa di Pare itu, saya mendapat kesempatan bertemu dengan Pak Cliff di Princeton dan secara sepintas sempat menanyakan tentang peristiwa itu. Tetapi, alih-alih mengingat kejadian itu, Pak Cliff tampak agak enggan bercakap-cakap tentang peristiwa sehari-hari saat ia melalukan penelitian di Pare. Sikap Pak Cliff ini sampai kini menimbulkan pertanyaan di benak saya. Mengingat bahwa penelitian di Pare yang menghasilkan The Religion of Java itu adalah salah satu karya terbaik Clifford Geertz yang mengantarkan dia sebagai Indonesianis terkemuka, agak sulit dipahami apabila Pak Cliff lupa terhadap orang-orang yang pernah ditelitinya. Salah satu penjelasan yang mungkin bisa dikemukakan dapat ditarik dari kritik terhadap pendekatan interpretif Geertz. Pendekatan interpretif Geertz membingkai interpretasi dari politik dan perasaan, sehingga barangkali bagi Pak Cliff relasi sosial di lapangan harus dibedakan dari relasi sosial setelah penelitian lapangan berakhir.
Seorang pemikir besar memang bukan seorang yang sempurna, dan Pak Cliff tampaknya menyadari hal ini. Penelitian terakhir dia tentang keanekaragaman etnis dan dampaknya terhadap modernitas memperlihatkan posisi kritis Geertz terhadap perspektif posmodernisme yang cenderung melupakan persoalan identitas. Akhir-akhir ini, Pak Cliff memang tak pernah lagi menulis secara khusus tentang Indonesia. Ia pernah mengatakan pada saya sepuluh tahun yang lalu bahwa kecintaannya terhadap kajian Indonesia sedikit terganggu oleh kemampuan bahasa Indonesianya yang sudah jauh menurun. Tetapi, sumbangan Pak Cliff jauh melampaui bahasa. Ia memberikan pencerahan pada kita bahwa teori harus bermula dari pemahaman mendalam tentang peristiwa dan masyarakat. Indonesia pantas berbangga pernah memberikan sumbangan untuk pemikiran-pemikiran besar yang lahir dari seorang Clifford Geertz. Selamat jalan Pak Cliff…..