ALKISAH, ada seorang mahasiswa sejarah menulis skripsi tentang kemiskinan suatu masyarakat desa. Si mahasiswa itu berhasil membuat deskripsi mendalam tentang kemiskinan masyarakat yang ditelitinya itu.
DI dalam skripsi itu, kemiskinan ditampilkan dalam bentuk pelukisan yang benar-benar hidup dan sarat nuansa. Membaca skripsi itu seakan-akan seperti ikut mengalami kemiskinan itu sendiri. Namun, bagaimana nasib skripsi tersebut di mata sang dosen pembimbing?
Skripsi itu ditolak mentah-mentah. Sebab, kata sang dosen pembimbing, itu bukan skripsi sejarah, tetapi skripsi antropologi, bahkan nyaris seperti novel alias karya sastra yang notabene "fiktif", kata sang dosen pembimbing. Karena itu, katanya, skripsi itu harus dirombak dan harus lebih menekankan proses historis munculnya kemiskinan.
Kisah lain. Seorang mahasiswa antropologi menulis skripsi tentang gerakan Ratu Adil. Berkat ketekunannya menggali arsip-arsip sejarah ia berhasil membeberkan proses perkembangan gerakan tersebut secara mendetail dan kaya nuansa. Tetapi, apa tanggapan dosen pembimbingnya?
Skripsi itu adalah skripsi sejarah, bukan skripsi antropologi, katanya. Karena itu harus dirombak, dan harus lebih ditekankan pada interpretasi atas makna simbol-simbol yang dipakai di dalam gerakan itu.
Kedua mahasiswa tersebut tentu frustrasi. Ia merasa yang ia kerjakan tak dihargai sama sekali, hanya karena kurang menyinggung aspek historis gejala kemiskinan yang ia kaji, dan si mahasiswa lainnya kurang menekankan tafsir makna atas simbol-simbol gerakan.
Dua kisah seperti itu hingga saat ini-dekade 1990-an-masih mudah kita jumpai di kampus-kampus perguruan tinggi ilmu-ilmu sosial dan humaniora di Indonesia. (Prakata Lintas Batas Ilmu Sosial, LKiS, 1997). Memang, sampai saat ini perdebatan tentang batasan ilmu sosial terus mengemuka. Terutama menyangkut tentang fakta dan fiksi yang dijadikan sebagai sebuah referensi karya ilmiah.
Hairus Salim, dalam kata pengantar buku ini menolak anggapan, bahwa "ilmu-ilmu sosial" yang pengerjaannya dilakukan berdasar standar dan prosedur yang dianggap ilmiah, disebut telah menyajikan fakta. Sementara di sisi lain, karya-karya sastra, seperti novel, puisi, dan esai disebut fiksi. Pada gilirannya, data di dalam karya-karya ilmu sosial lebih bisa diterima dan dijadikan rujukan ilmiah sementara karya sastra tidak.
KLAIM fakta yang selama ini menjadi sandaran ilmiah karya ilmu-ilmu sosial telah melumer dan mencair. Watak imajinatif memang tak terelakkan dari karya-karya ilmu sosial: bagaimana tema dipilih, format dibangun, dan tulisan dibangun, dan tulisan disusun semuanya melibatkan penafsiran, semuanya fiksi, seluruhnya konstruksi.
Asumsi bahwa antropologi adalah kegiatan menghimpun fakta yang aneh dan luar biasa, lalu memilahkannya dengan rapi ke dalam kategori-kategori yang sudah biasa telah tak berlaku lagi. Lalu semakin buyar antropologi itu apa?
Mungkin semacam kerja penulisan, kepengarangan, atau menyatakan hal-ihwal di atas kertas. Ide demikian terkadang terlintas dalam benak para antropolog dan peminat antropologi. Meski begitu, meneropong antropologi sebagai kerja tulis-menulis selalu dijegal beberapa pertimbangan dan keberatan yang semuanya kurang beralasan.
Salah satu keberatan itu, yang terutama berpengaruh pada antropolog, hanya didasarkan pada pertimbangan bahwa kegiatan tulis-menulis bukanlah kerja yang antropologis. Melainkan pergi ke berbagai tempat, pulang membawa oleh-oleh berupa informasi tentang cara hidup orang di sana, lalu menyediakan informasi itu dalam bentuk praktis bagi komunitas profesional.
Bukan hanya duduk di perpustakaan menganalisa pertanyaan literer. Keberatan lain, yang biasanya diajukan oleh peminat antropologi adalah bahwa teks antropologi tak layak diperhatikan secara rinci dan mendalam. Sastrawan seperti Conrad, Flaubert atau bahkan Balzac memang melakukan efek melalui cara tertentu yang patut dikaji.
Clifford Geertz dalam buku ini mengurai secara kritis atas kedudukan ilmiah dan kedudukan literer ilmu antropologi. Ia menelaah karya dari empat empu antropologi yang karya-karyanya menjadi klasik: Levi-Strauss, Evans-Prichard, Malinowski, dan Ruth Benedict. Gugatan Geertz ini menggema bukan hanya di gelanggang antropologi, tetapi ke seluruh bidang ilmu sosial.
Buku ini terbagi menjadi enam bab. Keempat bab pertama pernah disampaikan dalam bentuk yang agak berbeda, sebagai ceramah Harry Camp dalam memorial lectures di Stanford University, Musim Semi tahun 1983.
Untuk sebuah kejelasan kajian ini, Geertz memberi catatan pendahuluan. Pertama, istilah "antropologi" di sini terutama digunakan sebagai ekuivalen "etnografi" atau tulisan yang didasarkan atas "etnografi". Penggunaan ini meskipun sudah lazim dan baku, tetapi tidak eksak.
Geertz menyadari eksistensi arkeologi linguistik perbandingan, antropologi ragawi, dan berbagai bentuk kajian lain yang tidak atau tidak serta merta didasarkan atas etnografi. Dan itu semua mempunyai klaim yang sama valid untuk dimasukkan ke dalam rubrik "antropologi" sebagaimana "etnografi" serta memunculkan isu-isu wacana khusus yang tersendiri.
Geertz menggunakan istilah ini untuk mengacu pada antropologi sosial yang berorientasi etnografis, semata-mata untuk kemudahan pemaparan. Penggunaan demikian tidak untuk menyiratkan bahwa jenis karya yang dibicarakan sudah tuntas meliput apa yang diacu oleh istilah tersebut, atau bahwa karya semacam ini lebih layak dibahas di bandingkan dengan jenis-jenis lain.
Kedua, meskipun hal-hal yang bersifat biografis maupun historis tak bisa dielakkan masuk dalam bahasan ini pada banyak tempat, kajian ini sendiri tidak beritikad menjadi biografis atau historis, tetapi berkepentingan dengan "bagaimana antropolog menulis"-intinya, kajian ini berorientasi tekstual.
Karena itu, buku ini sangat penting bagi pembaca yang ingin mengetahui hayat dan karya para Antropolog dalam melakukan kerja kreatif kepenulisan dan kepengarangannya yang unik, kadang juga mendebarkan.
Oleh :Arief Fauzi Marzuki Praktisi buku, tinggal di Yogyakarta